Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Artikel / Detail

Mengenal Ulama Kebumen KH. Abdurrahman, Pendiri PP Al-Huda, Jetis

Artikel 02 Agustus 2018 15:11:58 WIB Amir Syarifuddin al hafidz, Penyuluh Agama Kecamatan Klirong dibaca 6304 kali


Biografi  
 
K.H. Abdurrahman adalah seorang ‘ulama yang merintis berdirinya Pondok Pesantren Al-Huda di Dusun Jetis, Desa Kutosari, Kebumen. Pondok Pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Jetis ini didirikan sekitar tahun 1880 Masehi.

Mbah Abdurrahman, panggilan akrab K.H. Abdurrahman adalah putera dari Kiai Imanjali bin Kiai Abdus Somad. Beliau berasal dari Desa Ambalkebrek, Kecamatan Ambal Kebumen, sebuah desa yang berada sekitar 4 km dari pantai Ambal pesisir laut selatan Kebumen.

Nama kecil Mbah Abdurrahman sebenarnya adalah Solihin, beliau diberi nama Abdurrahman oleh gurunya setelah selesai menimba ilmu di Tanah Suci. Sebelum menuntut ilmu di tanah suci, Solihin nyantri di Pondok Pesantren Ringin Agung, Jember Jawa Timur.

Ada sebuah kisah yang menjadi wasilah akhirnya Solihin menimba ilmu di Pondok Pesantren Ringin Agung. Pekerjaan Solihin sehari-hari ketika kecil adalah angon (menggembala) kerbau milik pamannya. Pada suatu hari, ada seekor kerbau yang digembalanya hilang.

Pamannya tidak mau tahu dan menuntut Solihin untuk mencari sampai ketemu. Dengan menangis karena diliputi rasa takut dan merasa bersalah, Solihin terus berjalan mencari ke arah timur. Berhari-hari berjalan, akhirnya sampailah Solihin di Pondok Pesantren Ringin Agung, kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan ngaji di sana.

Dengan penuh keprihatinan dan himmah yang kuat, Solihin berhasil menguasai berbagai ilmu diajarkan oleh gurunya. Akhirnya, setelah beberapa tahun menimba ilmu di Pesantren Ringin Agung, Solihin meminta restu gurunya untuk melanjutkan tholabul ilmi ke Tanah Suci.

Sebelum berangkat ke tanah suci Solihin diberi syarat untuk meminta do'a restu kedua orang tuanya di Kebumen dan ber-ziarah ke Makam Syeh Abdul Muhyi di Pamijahan.

Orang tuanya sempat kaget dan tidak percaya kalau ternyata Solihin, anaknya masih hidup. Karena sudah bertahun-tahun Solihin tidak pulang ke rumah, bahkan oleh keluarganya ia sudah dianggap meninggal.

Rihlah 'Ilmiyah

Tiba di Tanah Suci pemuda Solihin berguru tasawuf dan thariqah kepada Syekh ‘Abdur Rauf dan Syekh Sulaiman Zuhdi di daerah Jabal Qubais, sebuah pegunungan di daerah sebelah timur Masjidil Haram.

Guru beliau Syekh Sulaiman Zuhdi, yang dikenal dengan julukan Syekh Jabal Qubais merupakan silsilah ke-32 dari Nabi Muhammad SAW. Seorang 'ulama besar yang berperan besar dalam penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Beberapa 'ulama Nusantara yang juga pernah berguru pada Syeh Sulaiman Zuhdi diantaranya Syekh M. Hadi dan Syekh Ali Ridho Girikusumo (Jawa Tengah), Syekh Sulaiman Huta Pungkut (Sumatera Barat), Syekh Abdul Wahab Rokan (Aceh), dan lain-lain.

Beberapa tahun berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi, Solihin akhirnya di-bai'at oleh gurunya untuk menjadi mursyid dan di beri ijazah (kepercayaan) untuk mengembangkan Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyyah di tanah air. Oleh gurunya Solihin kemudian diberikan nama baru, yaitu Abdurrahman.

Karomah dan Perjuangan

Pulang ke tanah air, Abdurrahman kembali ke kampung halamannya di Desa Ambalkebrek, Kecamatan Ambal. Di kampung halamannya, beliau kemudian aktif berdakwah, membuka majelis pengajian dan menyebarkan ajaran thariqah.

Karena sering mengadakan kegiatan pengajian, suluk dan tawajuhan yang terkadang dilaksanakan secara tertutup, beliau dicurigai oleh penjajah Belanda. Beliau dituduh sedang menggalang kekuatan untuk memberontak pada pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya, pada suatu ketika beliau ditangkap Belanda dan dimasukkan dalam penjara.

Menurut cerita dari Mbah Sonhaji Jimbun (Guru Thariqah dari Gus Dur), ketika di dalam penjara karomah Mbah Abdurrahman mulai terlihat. Pada suatu ketika, seluruh tahanan di dalam penjara terkena wabah penyakit gatal-gatal. Wabah penyakit tersebut berlangsung cukup lama dan tidak kunjung hilang. Akhirnya KH. Abdurrahman dan menawarkan diri untuk menyembuhkan.

Oleh Mbah Abdurrahman, para penghuni penjara hanya disarankan untuk mengambil air wudlu dari padasan (tempat air yang terbuat dari tanah liat) milik beliau. Secara khusus, memang Mbah Abdurrahman membawa padasan ke dalam penjara untuk memudahkan beliau dalam mengambil air wudlu. Konon, padasan milik Mbah Abdurrahman sampai sekarang masih ada.

Setelah para tahanan mengambil air wudlu di padasan milik Mbah Abdurrahman, semua penyakit gatal seketika hilang. Karena gentar dengan karomah Mbah Abdurrahman, akhirnya beliau dilepaskan dari penjara.

Namun karena beliau masih dianggap berbahaya, beliau diharuskan tinggal dekat pusat kota pemerintahan. Beliau kemudian ditempatkan di dusun Jetis, sebuah daerah di pinggiran sungai Lukulo yang saat itu membutuhkan seorang kiai.

Oleh masyarakat setempat Mbah Abdurrahman dibuatkan sebuah rumah dan musholla sebagai majelis pengajian. Di dusun Jetis, beliau kemudian meneruskan dakwah mengajarkan ilmu agama dan menyebarkan ajaran Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah.

Berawal dari sinilah Sejarah Pondok Pesantren Al-Huda dimulai. Sekitar tahun 1880-an, walaupun saat itu belum diberi nama Al-Huda. Nama Al-Huda baru digunakan pada periode kepemimpinan K.H. Mahfudz Hasbullah. (w. 1985). Mbah Abdurrahman dipanggil ke rahmatullah pada hari Jum’at, dengan posisi sedang melakukan sujud tilawah di dalam Shalat Shubuh.

Pondok Pesantren Al-Huda saat ini di asuh oleh K.H. Wahib Mahfudz (1986-sekarang), beliau merupakan keturunan ke-4 dari Mbah KH. Abdurrahman. (K.H. Wahib Mahfudz, putra dari K.H. Mahfudz bin K.H. Hasbullah bin K.H. Abdurrahman).
 
Berawal dari sebuah majelis pengajian kecil yang di rintis oleh Mbah Abdurrahman, Al-Huda saat ini berkembang pesat menjadi Pesantren Salaf-Modern. Selain dikenal suluk Thoriqoh-nya, Pondok Pesantren Al-Huda juga terbilang cukup maju dengan lembaga pendidikannya, baik formal maupun nonformal.

Lahumul fatihah..