Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Artikel / Detail

Mengenal Ulama Kebumen, KH Imam Muzani Bunyamin

Artikel 04 Desember 2021 08:04:39 WIB Amir Syarifuddin dibaca 72 kali

Masa Kecil


KH. Imam Muzani Bunyamin memiliki nama kecil Imam Muzani,  beliau dilahirkan pada pada tanggal 11 September 1951 M di Desa Susukan Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Secara silisalah Imam Muzani merupakan putra KH. Bunyamin bin KH. Mardi, seorang kiai yang sangat ‘alim 'allaamah, Pendiri Pondok Pesantren ’Ulumuddin di Desa Susukan, Cirebon.


Imam Muzani merupakan  anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan KH Bunyamin dan Ibu Nyai Sa’adah. Kecintaan Imam Muzani pada sang ibunda,  menginspirasi beliau untuk mengabadikan nama sang ibu untuk nama pondok pesantren yang dikemudian hari beliau dirikan yaitu Pondok Pesantren Darussa’adah.

Imam Muzani dilahirkan dari keluarga besar ‘ulama di daerah Susukan, Cirebon Jawa Barat. Keluarga yang religius dan sangat menghormati ilmu agama membentuk Imam Muzani kecil menjadi pribadi yang tidak hanya cinta ilmu agama, taat beribadah, tetapi juga gemar melakukan riyadlah atau tirakat.


Pendidikan Agama


Sebagai seorang putra kiai pesantren, menuntut Imam Muzani untuk tidak meneruskan pendidikan formal. Selepas dari sekolah dasar, Imam Muzani lebih memilih untuk memperdalam kitab kuning, mendalami ilmu-ilmu agama di pondok-pondok pesantren.


Imam Muzani mengawali dengan mengaji Al-Qur’an kepada kakeknya, yaitu KH. Abdul Syukur  yang merupakan santri dari KH. Idris (w. 1923) Pesantren Jamsaren Solo   yang  dikenal sebagai kiai yang alim. Imam Muzani juga banyak mendapat pendidikan agama, langsung  dari  ayahnya, KH. Bunyamin.  

Ketika mengaji bersama ayahnya beliau selalu didampingi ibundanya, Nyai Sa’adah. Ayahanda beliau akan sangat amarah apabila materi yang disampaikan tidak dikuasainya. Sang ibunda dengan penuh kasih sayang memberikan dukungan moril dan menasehati untuk selalu kuat dan tabah, ketika ia mendapat hukuman dari sang ayah.


Dengan pendidikan yang sangat disiplin dari sang kakek dan ayahandanya, menjadikan Imam Muzani muda mampu membaca Al-Qur’an dengan fasih, bahkan hafal dan menguasai berbagai literatur ilmu, seperti Kitab Alfiyyah Ibnu Malik  dan Kitab Fathul Mu’in   dalam waktu yang relatif singkat.


Mengenang masa kecilnya, KH. Imam Muzani pernah bercerita bahwa beliau sangat terbiasa berjalan kaki atau bersepeda sambil nglalar (Jawa : mengulang hafalan) nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Sering ketika beliau menempuh perjalanan dari desa satu ke desa yang lain beliau bisa mengkhatamkan  nadzam seribu bait tersebut.


Setelah matang menguasai dasar ilmu nahwu dan fikih, pada tahun 1968 Imam Muzani akan memulai menempuh jalan thalabul ‘ilmi ke peondok pesantren. Dalam melakukan rihlah ilmiyyah beliau memilih berguru kepada para ‘alim dan kiai-kiai sepuh di beberapa pondok pesantren di tanah Jawa.


Berguru kepada seorang kiai yang ‘alim, selain untuk memperdalam ilmu (tabahhur fil ilmi), mengambil keberkahan (tabarrukan), juga yang tidak kalah penting adalah mengambil sanad keilmuan. Sanad kelimuan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam belajar ilmu agama dan merupakan ciri khas dari santri-santri NU.  


Beberapa pondok pesantren yang sempat disinggahi Imam Muzani adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri (1970), Pesantren Al-Falah Ploso Kediri (1972).  Di Pesantren Lirboyo Kediri, Imam Muzani berguru kepada KH. Idris Marzuki. Kemudian beliau berguru kepada KH. Jazuli Utsman dan para masyayikh yang lain di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri.


Ketika belajar di Ploso Imam Muzani juga sering menghabiskan waktu dengan KH. Hamim Jazuli atau akrab dipanggil Gus Miek. 

Keakraban beliau dengan Gus Miek sang Penempuh Suluk Jalan Terabas, menjadikan Imam Muzani lebih cenderung melakukan tirakat batiniyah dan tidak betah duduk mengaji di kelas madrasah. Imam Muzani lebih memilih mengkaji langsung dengan muthola’ah kitab-kitab yang ingin dipelajarinya kemudian menggurukannya atau memilih mengambil sanad dengan mengikuti kajian sistim bandongan.  

Di Pesantren Ploso beliau juga berteman akrab Gus Baha  putra pertama KH. Durmuji, Pengasuh PP Miftahul ‘Ulum Lirap. Perkenalan dengan Gus Baha kemudian menjadi wasilah beliau belajar di Pesantren Lirap (1974).

Beliau mengikuti Gus Baha ketika pulang ke Kebumen kemudain berguru dan tabarruk kepada KH. Durmuji Ibrahim. Setelah berguru kepada KH Durmuji, Imam Muzani melanjutkan tabarruk kepada KH. Qolyubi di Solo dan Kyai Chumeidi di Kaliwungu.  Beliau terakhir berguru kepada Abuya Syekh KH. Dimyati di Pondok Pesantren Cidahu Radasari Pandeglang Banten (1975).


Kesungguhananya dalam thalabul ‘ilmi dan ketekunananya dalam melakukan tirakat, menjadikan Imam Muzani di kemudian hari tidak hanya menjadi sosok kiai yang ‘alim, tetapi beliau juga dikenal sebagai seorang ahli hikmah yang disegani.


Ketajaman batin yang dimiliki oleh KH. Imam Muzani menjadikan beliau sering dimintai pendapat atau sebagai tempat istikharah oleh banyak tokoh masyarakat, politisi bahkan para kiai.

Sebagai misal adalah KH. Marsudi Syuhud salah satu Ketua PBNU, beliau pernah meminta istikharoh kepada Kiai Muzani ketika akan membangun pesantren di Jakarta. Hal ini disampaikan oleh KH. Marsudi Syuhud sendiri dalam  sejarah berdirinya Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, asuhan beliau.  
 
Menikah


Ketika di Pesantren Ploso, Imam Muzani berteman akrab Gus Bahauddin putra KH. Durmuji, Pengasuh PP Miftahul ‘Ulum, Lirap Kebumen yang kemudian menjadi wasilah beliau kemudian tinggal di Kebumen.


Pada awalnya Imam Muzani berguru kepada KH. Durmuji Ibrahim di Pesantren Lirap Kebumen. KH. Durmuji Ibrahim, sang guru melihat Imam Muzani memiliki ilmu yang cukup mendalam dan sifat yang sangat tawadlu’. Beliau tertarik untuk mengambil sebagai menantu, namun keinginan beliau saat itu belum tersampaikan. Ketika Imam Muzani sedang berguru kepada KH. Dimyati Banten, KH. Durmuji sowan dan meminta kepada KH. Dimyati untuk menjodohkan Imam Muzani dengan salah satu putrinya.


Setelah mendapat restu dari gurunya dan dari ayahandanya, pada bulan Agustus tahun 1975 Imam Muzani menikah dengan Nyai Siti Ngasiroh. Siti Ngasiroh adalah putri kedua dari KH Durmuji Ibrahim, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul ‘Ulum, Lirap Kebumen. Dari pernikahan dengan Nyai Siti Ngasiroh, beliau dikaruniai 8 anak, terdiri 5 laki-laki dan 3 perempuan.


Putra putri pasangan KH. Imam Muzani dan Nyai Ngasiroh adalah Kiai Agus Imam Sibaweh, Ibu Nyai Nur ‘Afifatul Khoiriyyah al-hafidzah, Nyai Lulu’ Lutfiyatul Fajriyah, Kiai Fauzan Fathullah, KH. Ahmad Adib Amrullah, Lc., Agus Nabil Kholili, Agus Ahmad Labibul Umam, M.Pd. dan putri yang terakhir adalah Ning Alfi Alifatul Ma’lufah.

Mendirikan Pesantren

Setelah menikah dengan putri KH. Durmuji Ibrahim, Imam Muzani tinggal di Kebumen dan berkhidmah kepada mertuanya, membantu mengelola Pesantren Miftahul Ulum Lirap. Sekitar sepuluh tahun kemudian, KH. Imam Muzani membangun rumah di lokasi yang tidak jauh dari Pesantren Lirap, yaitu sekitar 1 km di sebelah barat.

Pesantren Lirap sendiri masuk wilayah Desa Banjarwinangun, sedangkan lokasi di mana beliau tinggal dan mendirikan pesantren adalah Dukuh Bulus yang masuk wilayah Desa Kritig, Kecamatan Petanahan, Kebumen.


Pada awalnya, dengan berbekal ijin dan doa restu dari mertuanya, KH. Imam Muzani berniat untuk membuka pesantren putri. Namun, hampir setahun berjalan justru banyak santri putra yang datang ingin menimba ilmu kepada beliau. Akhirnya kemudian beliau membuka Pondok Pesantren Darussa’adah untuk Putra dan Putri.


Walaupun dengan bangunan seadanya, pada tahun 1985 tepatnya 17 Muharram 13.. Pondok Pesantren Darussa’adah diresmikan. Darussa’adah memiliki arti negeri kebahagiaan, nama ini juga sekaligus untuk mengenang nama ibunda beliau yang bernama Nyai Sa’adah.


Spesifikasi ilmu yang dipelajari di Pondok Pesantren Darussa’adah adalah kitab-kitab nahwu dan shorof, tentang ilmu gramatika bahasa Arab. Kurikulum nahwu sorof yang digunakan sebagian mengikuti metode dari Pesantren Lirap, seperti Kitab Jurumyyah, ‘Imriti, Kitab Al-Maqsud dan ‘Izzi. dan Alfiyyah Ibnu Malik. Kemudian dikembangkan dan ditambah dengan kajian-kajian fikih seperti Kitab Fathul Qorib, Fathul Mu’in dan kajiam tasawuf seperti Minhajul ‘Abidin, Kitab Ihya ‘Ulumuddin dan sebagainya.

NU dan Politik


Selain disibukkan mengasuh para santri di Pondok Pesantren Darussa’adah, KH. Imam Muzani juga aktif di Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama. KH. Imam Muzani pernah menjabat sebagai  Rois Syuriah PCNU Kebumen.


Ketika NU membuat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Imam Muzani termasuk salah satu pendiri DPC PKB di Kabupaten Kebumen dan beliau duduk menjadi Ketua Dewan Syuro PKB DPC Kebumen (1999).


Pada tahun 2004 beliau pernah dicalonkan sebagai wakil Bupati Kebumen bersama Bapak Kusnanto dari perwakilan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).  Bahkan beliau juga sempat masuk bursa kandidat Dewan Syuro Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada kepemimpinan KH. Muhaimain Iskandar  bersama 14 kiai lainnya (2008).  

Wafat

KH. Imam Muzani wafat di Susukan Cirebon pada hari Rabu, 9 September 2009 M bertepatan 19 Ramadhan 1430 H, dalam usia sekitar 58 tahun.  Walaupun wafat dalam usia yang terbilang masih muda, namun KH. Imam Muzani boleh dikatakan sudah berhasil membuat pondasi yang kuat di Pondok Pesantren  Darussa’adah. Sehingga sepeninggal wafat beliau pesantren ini dapat bertahan, bahkan terus berkembang sampai saat ini.


KH. Imam Muzani meninggalkan putra-putri yang kemudian meneruskan perjuangan beliau. Kepimimpinan di Pesantren Darussa’adah diteruskan putra-putri secara kolektif duduk bersama sebagai Dewan Pengasuh, dipimpin oleh Kiai Imam Sibaweh sebagai putra yang pertama.


Kiai Agus Imam Sibaweh, putra pertama KH. Imam Muzani yang saat meneruskan kepemimpinan Pengasuh Pesantren Darussa'adah, sebelumnya pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Kebumen dari Fraksi PKB.

Ibu Nyai Afifah, putri beliau yang kedua aktif di JMQH Jawa Tengah dan bidang dakwah, dan mendirikan Pesantren Tahfidz Qolbu. Sedangkan putra ke-empat beliau, KH. Agus Ahmad Adib Amrullah, Lc saat ini menjabat Katib Syuriah di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kebumen, mendampingi Rois Syuriah KH. Afifuddin Al-Hasani.


Pondok Pesantren Darussa’adah saat itu terus berbenah diri dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Jargon yang digunakan adalah jargon dari jami’yyah NU yaitu “al-muhafadzah ‘ala al-qodim ash-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.” Mempertahankan metode dan kurikulum lama yang baik dan relevan, dengan mengambil ide-ide pengembangan baru yang lebih baik.


Dengan jargon tersebut, Pondok Pesantren Darussa’adah tetap mempertahankan ciri khas utama sebagai takhassus ilmu alat (nahwu dan shorof) dengan sistem pembelajaran yang diwariskan oleh KH. Imam Muzani. Selain itu mengembangkan pendidikan formal dan non formal serta membuka program tahfidz Al-Qur’an untuk santri putri.


KH. Imam Muzani juga telah berhasil melahirkan banyak alumni yang menunjukkan kiprahnya di tengah masyarakat, mulai dari Jawa sampai luar Jawa. Di antara mereka adalah Kiai Abdul Malik Syafa’at, Pengasuh Pesantren Blok Agung Banyuwangi, dll.


KH. Imam Muzani dimakamkan di makam keluarga yang berada di sebelah utara masjid Al-Azhar, Komplek Pondok Pesantren Darussa’adah.

Semoga kisah biografi ini bisa diambil manfaatnya dan menjadi amal jariyah untuk beliau, lahumal faatihah.

Ketr.

Apabila terdapat kesalahan atau tambahan informasi silahkan menghubungi admin.