Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Opini / Detail

FENOMENA PERNIKAHAN SEJENIS

Opini 10 Maret 2018 22:21:50 WIB Wawan Hariyanto, S.Pd.I, PAH Kecamatan Alian. dibaca 216 kali

Pada tahun 2015 ada sebuah berita yang berjudul “Pernikahan Sesama Jenis dilegalkan di Seluruh AS”. Ini bukan pertama kali terdengar oleh kita sebagai warga berkebangsaan timur. Hati kita barangkali bertanya-tanya, kenapa bisa dilegalkan oleh pemerintah? Penulis yakin tidak sedikit yang bertanya-tanya. Keheranan yang kita rasakan sebenarnya sama, hanya saja mereka adalah orang-orang barat dengan budaya, life style dan fashion kebarat-baratan sehingga menjadikan kita semua merasa aneh.
Pernikahan semacam ini sebenarnya kalau kita mau membaca sejarah, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu yakni pada masanya Nabi Luth a.s. dan ternyata di era modern ini tumbuh kembali sisa-sisa moral manusia yang menghalalkan segala cara demi mengikuti hawa nafsu belaka. Kalau di negara kita, itu adalah sebuah pernikahan yang tidak sah baik menurut hukum agama maupun pemerintahan.
Kenyataan yang terjadi di negara Amerika Serikat setidaknya menjadi stimulan bagi semua guru, dan juga kepala sekolah untuk sedini mungkin merespon dengan keras bahwasanya hal itu dilarang. Para siswa yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, pastinya ketika ada kesempatan bertanya—ia akan menanyakan hal ini kepada gurunya terutama guru mapel Pendidikan Agama Islam (PAI), atau guru agama di sekolah.
Sekuat-kuatnya nasihat dan benteng siswa dari serangan luar yaitu kata-kata nasihat dari lisan gurunya. Sebagai contoh ketika sedang ramai-ramainya publik memberitakan tentang bom bunuh diri yang katanya demi jihad, seorang guru diupayakan paham bagaimana menjelaskan permasalahan ini kepada para siswa. Begitu juga tentang pernikahan sesama jenis, kalimat-kalimat yang keluar dari lisan guru adalah pedoman yang kuat bagi para siswa. Bahkan seringkali mereka lebih percaya kata-kata gurunya dibanding nasihat orang tuanya sendiri
Pernikahan sesama jenis ini bagaimanapun bentuknya, ia telah melanggar banyak pasal berdasarkan hukum yang berlaku di negara kita. Bukankah salah satu tujuan dari sebuah pernikahan adalah mendapatkan keturunan yang baik (shaleh/shalehah)? Apabila tujuannya untuk menyalurkan kebutuhan biologis semata, maka hal itu patut ditentang dan ditolak dengan dasar yang kita miliki.
Mayoritas Kaum Muda
Para siswa kita adalah anak-anak remaja yang sangat membutuhkan pendampingan dan pengarahan dari orang yang lebih tua. Para guru khususnya guru agama harus angkat bicara dan melantangkan suaranya di hadapan para siswa terkait pernikahan di atas. Kita bisa menjelaskan bahwa yang sah di negara Indonesia adalah pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Meski di dalam kelas sedang menjelaskan bab di luar pernikahan, mestinya dalang tidak kehabisan akal. Seorang guru tidak bisa kehilangan upaya agar „sisipan-sisipan’ dalam pelajaran bisa tersampaikan.
Bukan berarti keluar dari pembahasan, akan tetapi guru yang baik, selain mentransfer ilmu pengetahuan—ia juga akan menjaga jiwa dan raga anak didiknya supaya terselamatkan dari pengaruh-pengaruh budaya asing. Sebagaimana kita tahu, tanpa terasa jajahan-demi jajahan terhadap kaum muda di negeri kita sangatlah dahsyat. Kedahsyatannya bahkan luar biasa seiring menjamurnya teknologi super cepat yang dikuasai oleh mereka. Tak ada benteng pertahanan bagi mereka, kecuali kita ikut menjadi salah satu bentengnya.
Kondisi yang memperihatinkan di negara barat layak untuk kita jadikan cermin guna menghindar dari segala yang negatif dan merusak bangsa ini. Dengan jumlah beberapa negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis seperti Irlandia, Inggris, Prancis, dan Spanyol—menjadi catatan khusus dan PR kita semua. Pemerintah ini harus bisa menjaga para generasi bangsa ini yang sedang belajar di negara-negara tersebut dari mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan budaya timur. Kewaspadaan ini sebaik mungkin ditindaklanjuti bagi
mereka para TKI, TKW, mahasiswa, ataupun para pembelajar lainnya supaya bisa menghindar dan tidak terjerumus dalam kubang budaya barat.
Pernikahan yang didominasi kaum muda ini perlu kita perhatikan secara serius. Hal ini dikarenakan menyangkut masalah masa depan putra bangsa. Kita sedang menyiapkan generasi emas di tahun 2050 yang akan datang. Kita sedang „menggodok’ anak bangsa supaya menjadi pemimpin yang adil, menegakkan hukum runcing ke bawah runcing ke atas, dan disenangi rakyatnya. Kita juga sedang membina, mengarahkan, dan memenej anak bangsa untuk menjadi orang-orang hebat yang bermoral, jujur, dan bertanggung jawab.
Bila mereka tidak bisa kita selamatkan dari „rong-rongan? penjajah kasap mata; dunia maya, internet, gaya hidup mode barat—niscaya kita akan kehilangan harta yang sangat berharga yaitu ilmu dan moral. Kita akan merasakan pahit yang mendalam disebabkan mereka terbawa oleh arus jajahan itu dan menjadi pemimpin yang dzalim, banyak dusta, dan lari dari tanggung jawab.
Kembali pada pernikahan model sesama jenis. Sebenarnya apa yang diharapkan kaum muda di kelima negara di atas? Rasa prihatin yang dalam kita sampaikan di hadapan para siswa-siswi yang masih tampak polos dan belum terlalu berpikir untuk menikah. Kalaupun sebagian siswa kita memiliki tekad yang kuat untuk menikah langsung setelah lulus sekolah, maka minimal bekal ilmu telah ia dapatkan. Yang kedua bekal moral, ini yang terkadang sulit bagi mereka. Meski istilahnya kita sudah „berbusa-busa? menasehati mereka supaya tidak melakukan pergaulan bebas, namanya saja kaum muda. Kaum yang darahnya masih muda, labil, dan belum bisa berfikir dengan matang sebab dan akibat suatu perbuatan.
Pepatah mengatakan “Mencegal Lebih Baik Daripada Mengobati”. Mencegah siswa kita dari „ikut-ikutan? kaum muda di barat adalah langkah yang baik dibandingkan mengobati mereka yang sudah terlanjur dalam perbuatan yang dilarang tu.
*)