Arsip Hikayat

Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Hikayat / Detail

YUSUF BIN ASBATH DAN SEORANG PEMUDA PENGGALI KUBUR

Hikayat 17 April 2018 09:27:55 WIB Miftahudin, S.Pd.I Penyuluh Kecamatan Karanganyar dibaca 139 kali

Diriwayatkan dari Ibnu Hubaiq, "Riwayat dari ayahku yang berkata,'Yusuf bin Asbath pernah bertemankan seorang pemuda dari teluk, dia tidak pernah berbincang-bincang dengannya (Yusuf) selama sepuluh tahun. Akan tetapi, Yusuf mengetahui kerisauan dan kecemasan hati pemuda itu dan juga ketakutannya melakukan ibadah pada siang maupun pada malam hari.

Kepada pemuda itu Yusuf pernah berkata,"Apa sebenarnya pekerjaanmu dahulu, sehingga aku lihat dirimu selalu tertunduk menangis?"

"Dulu aku adalah seorang penggali kubur." Jawabnya.

"Apa yang pernah kamu lihat saat berada di liang lahat?" tanya Yusuf meminta penjelasan.

"Aku melihat rata-rata muka mereka dipalingkan dari arah kiblat, kecuali beberapa orang saja." kata pemuda itu.

"Kecuali beberapa orang saja ?" kata Yusuf mengulangi ucapannya.

Setelah berkata demikian, Yusuf pun kalut dan pikirannya tidak menentu, karenanya dia memerlukan terapi penyembuhan.

Ibnu Hubaiq melanjutkan ceritanya,"Ayahku berkata,'Kami lalu memanggil dokter Sulaiman untuk mengobati Yusuf. Setelah mendapatkan perawatan insentif, Yusuf pun sehat kembali seperti sedia kala dan ia pun berkata,'kecuali hanya sedikit saja !" Yusuf terus menerus mengucapkan demikian, dan karenanya dia mendapatkan perawatan insentif agar pikirannya normal kembali.

Ketika dokter Sulaiman selesai mengobati dan hendak pulang, Yusuf berkata kepada orang-orang yang menungguinya,'Apa yang mesti kalian berikan kepada dokter itu ?'

'Dia tidak mengharapkan apa-apa darimu.' jawab kami semua.

'Subhanallah! Kalian telah berani mendatangkan dokter kerajaan, akan tetapi aku tidak memberikan sesuatupun kepadanya.' Kata Yusuf.

'Berikan kepadanya uang beberapa dinar!' kata Kami kepada Yusuf.

Ambilah ini dan berikan kepadanya serta tolong beritahukan kepadanya bahwa aku tidak memiliki sesuatu pun, kecuali sekadar ini, agar dia tidak berprasangka bahwa aku ini mempunyai harga diri yang lebih rendah daripada para raja.' kata Yusuf kembali.

Yusuf kemudian menyerahkan sebuah kantong berisi uang sebanyak lima belas dinar dan diberikannya kepadaku. Selanjutnya kuserahkan imbalan jasa kepada dokter Sulaiman atas pertolongannya kepada Yusuf. Sejak peristiwa itu Yusuf akhirnya tekun menganyam tikar dari daun kurma hingga akhir hayatnya.

Dan diriwayatkan dari Hubaiq yang mengatakan,"Yusuf bin Asbath pernah berkata,'Dari ayahku, aku mendapatkan harta waris berupa tanah pekarangan seharga limaratus dinar yang terletak di daerah Kufah. Akan tetapi, pada akhirnya terjadilah perselisihan di antara paman-pamanku, karenanya aku meminta pendapat kepada Hasan bin Shaleh.

Hasan bin Shaleh lalu berkata kepadaku,'Aku tidak ingin kamu terlibat pertentangan dengan mereka, sebab tanah tersebut adalah tanah kharaj.'

Demikianlah atas saran Hasan bin Shaleh itu, maka kurelakan tanah pekarangan kepada mereka secara ikhlas karena Allah SWT semata dan aku hanyalah membutuhkan uang recehan saja.