Arsip Fiqh Ibadah

Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Fiqh Ibadah / Detail

Perbedaan Pendapat ulama Seputar Puasa di Bulan Rajab

Fiqh Ibadah 21 Maret 2018 14:10:38 WIB Amir Syarifudin al hafidz, Penyuluh Agama Kecamatan Klirong dibaca 230 kali

Dalam perhitungan tahun hijriyah terdapat empat bulan yang dimuliakan atau asyhurul hurum. Menurut keterangan yang mu’tamad, empat bulan tersebut yaitu bulan Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dalam bulan-bulan tersebut, Allah SWT melarang melakukan peperangan, suatu tradisi yang biasa dilakukan jauh sebelum datangnya syari’at Islam.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an : ”Sesungguhnya jumlah bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kalian dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana merekapun memerangi kalian semua. Dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Surah At-Taubah : 36)

Menyambut datangnya bulan Rajab, sebagian besar umat Islam menyambut dengan gembira dan penuh kebahagiaan. Mereka mempersiapkan lahir batin untuk mengisinyanya dengan berbagai amal ibadah. Namun, sebagian yang lain justru menolaknya dan menganggapnya sesuatu yang makruh, bahkan ada yang berpendapat termasuk katagori bid’ah.
 
Terlepas dari keyakinan dan ta'ashub (kefanatikan) terhadap satu pendapat 'ulama atau madzhab. Berikut ini rangkuman beberapa pendapat 'ulama mengenai puasa Rajab :
 
Sunnah

Pendapat pertama, merupakan pendapat yang paling masyhur dari sebagian besar ‘ulama madzhab, selain dari Madzhab Hanbali.  Para 'ulama madzhab Syafi’i, Maliki dan Hanafi menetapkan bahwa puasa Rajab merupakan bagian dari ibadah sunnah.

Imam An-Nawawi, salah seorang 'ulama Madzhab Syafi’i dalam Al-Majmu’ dan Raudhatut-Thalibin mengatakan,”Telah berkata ashabuna : termasuk puasa yang disunnahkan adalah puasa di bulan-bulan haram (asyhurul hurum), yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.” Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Minhajul Qawim dengan Hasyiyah At-Tarmasi.

Demikian juga pendapat beberapa 'ulama dari madzhab Hanafi dan Maliki. Mereka berpendapat bahwa walaupun dari tinjauan hadits yang ada yang dianggap dha'if, namun tetap dapat dijadikan sumber rujukan, khususnya untuk fadhailul-a'mal (keutamaan amal).

Salah satu hadits yang dijadikan pedoman adalah sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Harits yang bertanya kepada beliau SAW tentang puasa sunnah. “Berpuasalah kamu di bulan kesabaran (Ramadhan), kemudian berpuasalah 3 hari setelahnya, dan kemudian puasalah pada bulan-bulan haram”. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah).

Makruh

Pendapat kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa puasa Rajab hukumnya adalah makruh. Pendapat ini merupakan pendapat dari sebagian 'ulama Mazhab Hanbali, seperti Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni dan Al-Mardawi dalam Kitab Al-Inshaf.

Bid’ah

Pendapat ketiga adalah pendapat atau fatwa dari beberapa 'ulama khalaf (kontemporer) di luar empat madzhab. Di antaranya adalah Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan Syeikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan. Mereka berpendapat bahwa puasa di bulan Rajab hukumnya adalah bid'ah, tidak ada dalil yang bisa dijadikan landasan hukum, karena sebagian haditsnya adalah dho'if (lemah). Dari ketiga ulama inilah, kelompok yang berpendapat puasa Rajab adalah bid'ah mengambil sumber rujukan.

Perbedaan dalam masalah fiqh merupakan suatu hal yang niscaya dan tidak dapat dihindari. Namun, seharusnya hal ini tidak untuk dijadikan dasar untuk mengklaim yang paling benar dan saling menyalahkan satu sama lain.

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan."(HR. Thabrani dan Baihaqi).

Wallahu A’lam.

Keterangan : Dirangkum dari beberapa tulisan.