Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Berita / Detail

Mengenal Ulama Kebumen

Berita 02 Agustus 2018 09:41:51 WIB Amir Syarifudin al hafidz, Penyuluh Agama Kecamatan Klirong dibaca 255 kali


K.H.
Abdurrahman (Muassis PP Al-Huda, Jetis)



 



Biografi 

K.H. Abdurrahman adalah seorang ‘ulama yang
merintis berdirinya Pondok Pesantren Al-Huda di Dusun Jetis, Desa Kutosari,
Kebumen. Pondok Pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Jetis ini
didirikan sekitar tahun 1880 Masehi.
Mbah
Abdurrahman, panggilan akrab K.H. Abdurrahman adalah putera dari Kiai Imanjali
bin Kiai Abdus Somad. Beliau berasal dari Desa Ambalkebrek, Kecamatan Ambal
Kebumen, sebuah desa yang berada sekitar 4 km dari pantai Ambal pesisir laut
selatan Kebumen.

Nama kecil
Mbah Abdurrahman sebenarnya adalah Solihin, beliau diberi nama Abdurrahman oleh
gurunya setelah selesai menimba ilmu di Tanah Suci. Sebelum menuntut ilmu di
tanah suci, Solihin nyantri di Pondok Pesantren Ringin Agung, Jember Jawa
Timur.
Ada sebuah
kisah yang menjadi wasilah akhirnya Solihin menimba ilmu di Pondok Pesantren
Ringin Agung. Pekerjaan Solihin sehari-hari ketika kecil adalah angon
(menggembala) kerbau milik pamannya. Pada suatu hari, ada seekor kerbau yang
digembalanya hilang.

Pamannya tidak
mau tahu dan menuntut Solihin untuk mencari sampai ketemu. Dengan menangis
karena diliputi rasa takut dan merasa bersalah, Solihin terus berjalan mencari
ke arah timur. Berhari-hari berjalan, akhirnya sampailah Solihin di Pondok
Pesantren Ringin Agung, kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan ngaji di
sana.


Dengan penuh
keprihatinan dan himmah yang kuat, Solihin berhasil menguasai berbagai ilmu
diajarkan oleh gurunya. Akhirnya, setelah beberapa tahun menimba ilmu di
Pesantren Ringin Agung, Solihin meminta restu gurunya untuk melanjutkan
tholabul ilmi ke Tanah Suci. Sebelum berangkat ke tanah suci Solihin diberi
syarat untuk meminta do'a restu kedua orang tuanya di Kebumen dan ber-ziarah ke
Makam Syeh Abdul Muhyi di Pamijahan.
Orang tuanya
sempat kaget dan tidak percaya kalau ternyata Solihin, anaknya masih hidup.
Karena sudah bertahun-tahun Solihin tidak pulang ke rumah, bahkan oleh
keluarganya ia sudah dianggap meninggal.



Rihlah
'Ilmiyah



Tiba di Tanah
Suci pemuda Solihin berguru tasawuf dan thariqah kepada Syekh ‘Abdur Rauf dan
Syekh Sulaiman Zuhdi di daerah Jabal Qubais, sebuah pegunungan di daerah
sebelah timur Masjidil Haram. Guru beliau Syekh Sulaiman Zuhdi, yang dikenal
dengan julukan Syekh Jabal Qubais merupakan silsilah ke-32 dari Nabi Muhammad
SAW. Seorang 'ulama besar yang berperan besar dalam penyebaran Thariqah
Naqsabandiyah di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Beberapa
'ulama Nusantara yang juga pernah berguru pada Syeh Sulaiman Zuhdi diantaranya
Syekh M. Hadi dan Syekh Ali Ridho Girikusumo (Jawa Tengah), Syekh Sulaiman Huta
Pungkut (Sumatera Barat), Syekh Abdul Wahab Rokan (Aceh), dan lain-lain.
Beberapa tahun
berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi, Solihin akhirnya di-bai'at oleh gurunya
untuk menjadi mursyid dan di beri ijazah (kepercayaan) untuk mengembangkan
Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyyah di tanah air. Oleh gurunya Solihin kemudian
diberikan nama baru, yaitu Abdurrahman.



Karomah dan
Perjuangan



Pulang ke
tanah air, Abdurrahman kembali ke kampung halamannya di Desa Ambalkebrek,
Kecamatan Ambal. Di kampung halamannya, beliau kemudian aktif berdakwah,
membuka majelis pengajian dan menyebarkan ajaran thariqah.
Karena sering
mengadakan kegiatan pengajian, suluk dan tawajuhan yang terkadang dilaksanakan
secara tertutup, beliau dicurigai oleh penjajah Belanda. Beliau dituduh sedang
menggalang kekuatan untuk memberontak pada pemerintah kolonial Belanda.
Akhirnya, pada suatu ketika beliau ditangkap Belanda dan dimasukkan dalam
penjara.

Menurut cerita
dari Mbah Sonhaji Jimbun (Guru Thariqah dari Gus Dur), ketika di dalam penjara
karomah Mbah Abdurrahman mulai terlihat. Pada suatu ketika, seluruh tahanan di
dalam penjara terkena wabah penyakit gatal-gatal. Wabah penyakit tersebut
berlangsung cukup lama dan tidak kunjung hilang. Akhirnya KH. Abdurrahman dan
menawarkan diri untuk menyembuhkan.

Oleh Mbah
Abdurrahman, para penghuni penjara hanya disarankan untuk mengambil air wudlu
dari padasan (tempat air yang terbuat dari tanah liat) milik beliau. Secara
khusus, memang Mbah Abdurrahman membawa padasan ke dalam penjara untuk
memudahkan beliau dalam mengambil air wudlu. Konon, padasan milik Mbah
Abdurrahman sampai sekarang masih ada.

Setelah para
tahanan mengambil air wudlu di padasan milik Mbah Abdurrahman, semua penyakit
gatal seketika hilang. Karena gentar dengan karomah Mbah Abdurrahman, akhirnya
beliau dilepaskan dari penjara.
Namun karena
beliau masih dianggap berbahaya, beliau diharuskan tinggal dekat pusat kota
pemerintahan. Beliau kemudian ditempatkan di dusun Jetis, sebuah daerah di
pinggiran sungai Lukulo yang saat itu membutuhkan seorang kiai.

Oleh
masyarakat setempat Mbah Abdurrahman dibuatkan sebuah rumah dan musholla
sebagai majelis pengajian. Di dusun Jetis, beliau kemudian meneruskan dakwah
mengajarkan ilmu agama dan menyebarkan ajaran Thariqah Naqsyabandiyah
Kholidiyah.

Berawal dari
sinilah Sejarah Pondok Pesantren Al-Huda dimulai. Sekitar tahun 1880-an,
walaupun saat itu belum diberi nama Al-Huda. Nama Al-Huda baru digunakan pada
periode kepemimpinan K.H. Mahfudz Hasbullah. (w. 1985). Mbah Abdurrahman
dipanggil ke rahmatullah pada hari Jum’at, dengan posisi sedang melakukan sujud
tilawah di dalam Shalat Shubuh.

Pondok
Pesantren Al-Huda saat ini di asuh oleh K.H. Wahib Mahfudz (1986-sekarang),
beliau merupakan keturunan ke-4 dari Mbah KH. Abdurrahman. (K.H. Wahib Mahfudz,
putra dari K.H. Mahfudz bin K.H. Hasbullah bin K.H. Abdurrahman).

Berawal dari sebuah majelis pengajian kecil
yang di rintis oleh Mbah Abdurrahman, Al-Huda saat ini berkembang pesat menjadi
Pesantren Salaf-Modern. Selain dikenal suluk Thoriqoh-nya, Pondok Pesantren
Al-Huda juga terbilang cukup maju dengan lembaga pendidikannya, baik formal
maupun nonformal.


Wallahu A'lam.