Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Artikel / Detail

Pergaulilah Orang Yang Jujur Dan Menepati Janji

Artikel 30 Januari 2018 10:04:48 WIB Ridha Rahman, M.Pd. II PAH Kecamatan Adimulyo dibaca 1398 kali

Manusia adalah makhluk yang tidak mampu hidup sendiri, ia membutuhkan orang lain untuk dapat eksis dan berkarya di muka bumi. Sebagai makhluk sosial ia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa berinteraksi dengan kerabat atau pun kawan. Sebagai makhluk sosial, manusia juga memiliki ide, tujuan, dan keinginan menuju kesempurnaan. Untuk mewujudkan itu diperluakan hubungan yang baik antarindividu. Dua individu akan menjalin hubungan dengan baik dan kuat jika dilandasi jiwa kejujuran dan konsekuen. Dalam bergaul Allah SWT memberikan rambu-rambu agar mencari teman yang memelihara kejujuran.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut sebagai perintah Allah SWT atas orang-orang yang beriman agar berbuat jujur dan tetap dalam kejujuran, niscaya akan termasuk orang-orang yang jujur dan terhindar dari kebinasaan. Dan Allah SWT akan memberi kepada orang-orang yang jujur keberuntungan pada setiap urusan dan diberikan jalan keluar dari setiap permasalahan.
Sebuah kata bijak berbahasa Arab menyebutkan anjuran berkawan dengan orang-orang yang jujur.
Kejujuran dalam sejarah peradaban Islam tidak terpisahkan dari cerita seorang perempuan penjual susu pada zaman Amirul Mukminin Umar bin Khatab.

Suatu malam Amirul Mukminin berkeliling kota Madinah untuk melihat kondisi rakyatnya. Begitulah kebiasaan unik Khalifah Umar bin Khatab untuk menghabiskan sebagaian malamnya. Ditemani seorang pambatunya, Umar beristirahat melepas lelah sambil bersandar pada salah satu dinding rumah sederhana. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan percakapan antara seorang ibu dan anak putrinya. “Campurkan air pada susu yang mau kita jual, nak!” kata ibu kepada anaknya. “Bagaimana mungkin aku mencampurnya dengan air, bu! Bukankah Amirul Mukminin telah melarang penjual susu untuk melakukan itu?” jawab sang anak. “Bukankah penjual susu lain juga mencampur susu mereka dengan air. Sudah lah, nak campur saja! Amirul Mukminin pasti tidak tahu apa yang kita lakukan” sangkal Ibunya. “Bu, jika Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, maka Tuhan Amirul Mukminin mengetahuinya…” jawab sang anak.

Umar RA  tak kuasa menahan air mata dan berbegas pulang untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Sesampainya di rumah, Umar bin Khatab memanggil Ashim, salah satu putranya yang sudah pantas untuk menikah. Ia memerintahkan untuk mengunjungi rumahnya dan menceritakan kepada anak itu untuk apa yang ia dengar. Umar berkata: “Wahai anakku, pergilah kesana dan nikahilah dia, saya melihatnya anak itu akan memberi keberkahan, insya Allah. Semoga ia dapat melahirkan anak yang dapat memimpin Arab”.

Akhirnya Ashim menikahi gadis miskin penjual susu tersebut, namanya Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Atsaqafi. Dari pernikahan itu lahirlah seorang 2 anak perempuan yang diberi nama Hafshah  dan Laila. Laila di kemudian hari bernama Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khatab. Laila memiliki sifat dan karakter mulia seperti yang dimiliki oleh kakeknya Uman bin Khatab. Laila kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, saudara Abdul Malik bin Marwan Khalifah ke tiga Bani Umayah. Abdul Aziz adalah gubernur Mesir memilih istri dari keturunan Umar bin Abdul Aziz dengan harapan menurunkan generasi yang mulia. Dari pernihan tersebut lahirlah Khalifah keempat Bani Umayah Umar bin Abdul Aziz, pemimpin yang pemberani dan bijaksana. Ia mampu mengubah dunia dalam 29 bulan sebelum wafatnya. 

Kejujuran secara baku berarti mengakui, berkata atau memberikan informasi yang sesuai pada kenyataan. Lebih jauh lagi kejujuran berarti jauh bebas dari kecurangan, mengikuti aturan yang berlaku dan ketulusan hati. Adapun sikap jujur dapat diartikan sebagai sikap hati-hati memegang kepercayaan orang lain. Pribadi yang jujur merupakan pribadi yang mulia dan pantas untuk memegang suatu amanah, karena orang semacam ini memegang teguh keberanaran yang diyakininya dan menjelankan segala sesuatu dengan penuh tanggung jawab. Apapun keadaannya ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengucapkan sepatah kata kecuali kebenaran.
Dalam Islam kejujuran dapat menunjukkan karakter pribadi seorang manusia. Beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah menyebutkan keutamaan kejujuran.

1.Kejujuran karakter orang taat kepada Allah SWT
Ayat ini menjadi dasar bahwa seorang muslim yang beriman dan taat kepada Allah SWT  ditunjukkan melalui perkataan yang selalu mengandung kebenaran. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir bahwa keimanan, ketaatan, perkataan yang benar memiliki derajat yang sama.
Ketika seseorang telah benar-benar beriman dan taat kepada Allah SWT, maka perkataan yang keluar dari mulutnya akan selalu mengandung kebenaran, tidak bengkok, dan tidak menyimpang.

2. Kejujuran karakter orang yang mendapat kasih sayang Allah SWT
 Orang-orang yang mendapat rahmat atau kasih sayang Allah SWT pada ayat tersebut adalah para nabi-nabi terdahulu. Mereka yang selalu diliputi keselamatan, pertolongan, kecukupan, dan ketentraman. Adapun saat ini generasi kenabian telah berakhir, oleh karena itu akan muncul generasi yang selamat, berkecukupan dan tentram hidup di dunia. Mereka adalah orang-orang yang konsisten menjaga perkataannya pada kejujuran. Kejujuran merujuk pada ayat di atas merupakan buah kata tertinggi seorang manusia. 

3.Kejujuran karakter ahli surga
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab: 35)
Ayat diatas menunjukkan bahwa orang-orang yang jujur dalam berkata, berfikir, dan berperilaku tidak akan disia-siapakan oleh Allah SWT. Selama seorang laki-laki atau perempuan menjaga kejujuran diri Allah SWT akan selalu memberikan ampunan dan pahala yang besar. Orang yang selalu mendapat ampunan dan pahala yang besar merujuk pada ayat diatas adalah  para ahli surga.
Kejujuran atau bertindak benar merupakan karakter orang mulia yang disediakan oleh Allah SWT baginya ampunan dan pahala yang besar. Kejujuran dalam hal merupakan jalan yang benar dan penuh keselamatan dari azab akhirat yang sangat keras.
Kejujuran merupakan sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan dan mencocokkan antara informasi dengan fenomena atau realitas. Kejujuran sangat berhubungan erat dengan janji dan kepercayaan dari orang lain. Sifat jujur merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan orang lain. Ketika kepercayaan itu telah datang, ia akan menepati kepercayaan tersebut sesuai janji yang diucapkan.