Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Artikel / Detail

Mengenal Ulama Kebumen Bagian 1

Artikel 05 Februari 2018 09:38:57 WIB Amir Syarifudin II PAH Kec. Klirong dibaca 1235 kali

KH. Abdul Halim atau Raden Sugiono (1916-1994)
                
KH. Abdul Halim, memiliki nama kecil Sugiono, sebagian masyarakat Kebumen lebih mengenalnya dengan panggilan akrab Den Gono. Sugiono lahir di Kauman, Kota Kudus sekitar tahun 1916 M. Beliau adalah putra dari Raden Mahfudz, yang masih memiliki silsilah trah keturunan dengan Sunan Kudus, dan makam ayahandanya pun berada di kompleks Makam Sunan Kudus.

Karena memiliki trah Sunan Kudus inilah, sebagian masyarakat Kebumen mengenalnya dengan panggilan Raden Sugiono atau Den Gono. Raden Sugiono hidup pada masa KH. Abdurrahman Sidik, yang dikenal dengan panggilan Mbah Mbono, Imam Masjid Kauman Kebumen saat itu.

Ketika berumur 9 tahun, Sugiono kecil dikirim oleh bapaknya ke Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Beliau dititipkan kepada Mbah Munawwir (KH Munawwir) mengikuti jejak saudaranya yang bernama Arwani, untuk  menghafal Al-Qur’an. Arwani adalah yang kemudian menjadi seorang ‘ulama yang dikenal dengan KH. Arwani Kudus, Pendiri Pesantren Yambu’ul Qur’an, Kudus.

Sugiono merupakan santri angkatan pertama dari KH. Munawwir, Krapyak. Beberapa teman satu angkatan beliau adalah KH Arwani, al-hafidz (Kudus), KH. Abu Amar al-hafidz (Kroya), dan  KH. Yusuf Azhari al-hafidz ( Purwokerto), ayah dari tokoh PBNU, KH. Slamet Effendi Yusuf. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Pada saat ngaji di Krapyak inilah, Sugiono diganti namanya oleh Mbah Munawwir dengan nama Abdul Halim. Walaupun kemudian ia tetap memilih dan menyukai nama aslinya Sugiono, karena menurut beliau lebih terkesan sederhana.Setelah berhasil khatam menghafal Al-Qur’an 30 juz, Sugiono pamit kepada Mbah Munawwir untuk meneruskan menuntut ilmu (ngaji) ke Kota Kebumen. Pada saat itu, beliau  mendengar ada seorang ‘ulama asal Mekkah yang tinggal di Kebumen, bernama Syekh ‘Umar.

Syekh ‘Umar  adalah seorang ulama asal Mekkah yang menetap di Kebumen. Awal kedatangan Syekh Umar ke Indonesia ini, karena diajak oleh sahabatnya Syekh Mahfudz Jetis, yang saat itu bersama beliau menimba ilmu di Tanah Suci Mekkah. Kepulangan Syekh Mahfudz bersama Syekh Umar dikarenakan di Mekkah saat itu terjadi Revolusi antara Sunni dan Wahabi. Selain Syekh Umar ada satu lagi ulama asal Mekkah yang menetap di Kebumen, yaitu Syekh Hamid. Syekh Hamid dibawa ke Indonesia oleh Syekh Damiri, Kuwarasan Kebumen.

Menurut salah satu santri beliau, KH Soleh Sidiq al-hafidz, kemampuan Raden Sugiono dalam bidang tahfidz (hafalan) sangat baik, hal ini disampaikan sendiri oleh KH. Arwani, Kudus kepada KH Soleh saat ngaji kepada beliau. Selain sebagai seorang hafidz, beliau juga seorang qori terbaik di Kebumen saat itu. Sehingga, hampir setiap ada acara di kantor-kantor pemerintah, atau  ada kunjungan pejabat dari Jakarta, beliau yang didaulat untuk tampil menyenandungkan bacaan Al-Qur’an.

Menurut cerita putra beliau, sebagai seorang hafidz, Raden Sugiono juga dikenal sebagai pengusaha yang ulet. Kemahiran beliau dalam usaha percetakan sudah digeluti  setelah selesai ngaji dengan Syekh Umar. Bahkan, beliau sempat tinggal di Tasikmalaya merintis bisnis percetakan bersama teman-temannya, sesama hafidz.

Beliau kemudian menikah dijodohkan oleh gurunya dengan Fatmawati, putri seorang Kiai Imam Masjid Kauman Gombong, yang berasal dari Gresik. Setelah menikah, beliau menetap di Kebumen dan meneruskan usaha dalam bidang percetakan. Beliau dikenal sebagai satu-satunya ahli pembuat stempel di Kebumen pada saat itu.

Keahlian beliau dalam bidang tahfidz (hafalan Al-Qur'an) dan taghonni (seni baca Al-Qur’an) cukup baik. Peran beliau dalam pengajaran Al-Qur’an di Kebumen juga bisa dikatakan cukup besar. Raden Sugiono merupakan guru Al-qur'an dari beberapa kiai di Kebumen. Beberapa tokoh atau kiai yang pernah mengaji Al-Qur’an kepada beliau diantaranya adalah KH Soleh Siddiq al-hafidz (Pengasuh Pondok Huffadz Roudhotul Qur’an Watubarut), Gus Ali Fikri al-hafidz (Imam Besar Masjid Kauman Kebumen), KH. Wahib Mahfudz (Jetis), almarhum KH. Badri (Bumirejo) dan sebagainya.

Dari para santri beliau inilah pengajaran Al-Qur’an yang fasih dan mujawwad  menyebar dengan baik di kota Kebumen.Nama beliau pun dikenal cukup harum di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, sampai saat ini. Makam beliau bersanding dengan makam gurunya Syekh Umar Basyir, di belakang komplek pemakaman keluarga Pondok Al-Huda, Jetis Kutosari Kebumen.

Sufyan bin 'Uyainah berkata : "Udzkur hadits ash-sholihin wa sammihim, Wa bi dzikrihim tatanazzalu ar-rokhamaatu". Artinya: "ceritakanlah sejarah orang-orang sholih, dan sebutlah nama-namanya, karena dengan menyebut nama-nama mereka akan turun banyak rahmat”.

Semoga dengan membaca sejarah beliau, kita mendapatkan rahmat Allah SWT, Amin.

Sumber : Wawancara dengan Raden Abdul Wahid (putra ketiga Raden Sugiono), pada hari Selasa 24 Mei 2016 dan Raden Anwar (putra pertama) pada hari Senin 30 Mei 2016.