Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Artikel / Detail

Mengenal Ulama Kebumen Bagian 2

Artikel 14 Februari 2018 09:14:47 WIB Amir Syarifudin II PAH Kec. Klirong dibaca 811 kali

KH. Ahmad Nasikhah Wonoyoso (1894-1966)

Perjalanan perkembangan Islam di Indonesia dari sebelum kemerdekaan hingga hingga sekarang, tidak bisa dilepaskan dari torehan tinta dan tetesan darah para kiai dan ‘ulama. Mbah Nashoha, adalah sosok seorang ‘ulama yang ikut terjun dalam perjuangan melawan penjajah dan berkontribusi dalam perkembangan Islam di Kebumen.

Mbah Nashoha, nama sebenarnya adalah KH. Ahmad Nasikhah, namun lisan masyarakat Kebumen lebih mudah memanggil beliau dengan panggilan Mbah Nashoha. Beliau tinggal di Dusun Wonoyoso, sebuah dusun yang lebih terkenal dibanding nama desanya, Desa Bumirejo dalam wilayah Kecamatan Kebumen.

Mbah Nashoha adalah  putra dari Kiai Muhammad Isma’il yang berasal dari desa daerah Gombong. Kiai Isma’il sendiri adalah putra dari Muhammad Iman, seorang kiai pengasuh Masjid Soko Tunggal di daerah Pekuncen, Gombong. Kiai Isma’il diminta tinggal di Wonoyoso oleh Mbah Dipaleksana, salah seorang Prajurit Pangeran Diponegoro untuk njejeri (mengasuh) sebuah masjid. Masjid ini disebut masyarakat Wonoyoso sebagai masjid Tiban, yaitu masjid yang tidak diketahui asal usul dan siapa pendirinya.

Menurut cerita Gus Taha (panggilan akrab KH. Muntaha Mahfudz, masjid ini dibuat oleh seorang ‘ulama yang bernama Syech Arfiyah bin Syech Mursyid, pada masa penjajahan Belanda sebelum Indonesia merdeka. Syech Arfiyah sendiri pernah menjabat sebagai Bupati Panjer, sebelum dikenal terbentuknya Kabupaten Kebumen. Masjid Tiban ini sekarang dikenal masyarakat dengan nama Masjid Jami’ Salafiyah, berada di Komplek Pesantren Salafiyah, Wonoyoso.

Kepemimpinan Masjid Salafiyah sempat mengalami fatroh dari bimbingan seorang kiai. Karena, KH. Muhammad Isma’il, ayah dari KH Ahmad Nasikhah ini meninggal dunia di Mekkah, ketika beliau menunaikan ibadah haji. Sedangkan Ahmad Nasikhah muda saat itu masih masih tholabul ‘ilmi  di pesantren. Dalam kekosongan itu, posisi pengasuh Masjid Salafiyah sempat dipegang oleh KH Ali Murtadlo, kakek dari Agus Hakim Musyafa’ bin KH. M. Syatibi, yang saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Al-Hidayah, Wonoyoso.

Menurut Gus Taha, beliau mendengar dari cerita dari orang tuanya, bahwa kakeknya Mbah Nashoha  merupakan sosok kiai yang sangat sederhana. Ketika masih muda gemar mengembara mencari ilmu (tholabul ilmi) dari pesantren satu ke pesantren yang lain. Pesantren di tanah Jawa pernah disinggahinya adalah Pondok Damesan Magelang, Pesantren Mangkang Semarang, dan lain-lain. Beliau pernah berguru kepada Mbah Kiai Nuh, Pageraji Purwokerto yang dikenal ‘ulama ahli hikmah.

Selain itu, yang tidak bisa diremehkan Mbah Nashoha berguru dan mengambil sanad keilmuan Islam langsung kepada Hadlrotus Syech Hasyim ‘Asyari, tokoh pendiri Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama (NU). Bahkan setelah itu, beliau menyempatkan mukim di Kota Mekkah, dalam rangka tabahhur fil ‘ilmi selama 4 tahun. Di kemudian hari, Mbah Nashoha ia dikenal sebagai kiai yang ‘alim dan disegani.

Membaca catatan lembaran sejarah perjalanan NU di Kebumen, tidak bisa dinafikan dari sosok seorang Mbah Nashoha. Beliau satu-satunya santri asal Kebumen yang di-dawuhi langsung oleh Mbah KH. Hasyim Asy’ari untuk membuat cabang kepengurusan NU di Kebumen. KH Hasyim Asyari sendiri bernah menyempatkan rawuh di Kebumen, bersama putranya KH Wahid Hasyim dan cucu kesayangannya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu masih kecil. Tidak mengherankan, apabila Kebumen saat ini menjadi salah satu basis kuat NU di Jawa Tengah. Dalam istilah Gus Dur, Kebumen adalah jalur hijau Jawa Tengah bagian selatan.

Sebelum sibuk mengajar dan mendidik para santri, Mbah Nashoha pernah melakukan ‘uzlah untuk mengasah ketajaman batinnya. Tempat yang pernah disinggahinya adalah hutan Kumbangkangkung di daerah Gunung Grenggeng Cilacap, sebuah petilasan Syech Baribin. Ketika melakukan ‘uzlah di Gunung Grenggeng ini, menurut cerita ibunda Gus Taha, karomah Mbah Nasokha mulai kelihatan. Setiap mau mengambil air wudlu, beliau hanya menancapkan telunjuk jarinya ke tanah, biqudrotillah air wudlu memancar dari dalam tanah.

Hidup di masa penjajahan, menuntut Mbah Nashoha ikut terjun langsung berjuang melawan penjajahan. Menurut kesaksian KH. Muhdi Ali (keponakannya), ia mengetahui bahwa Mbah Nashoha pernah berangkat perang ke Ambarawa. Beliau mendapat tugas untuk membebaskan para kiai yang ditahan oleh penjajah kolonial Belanda.

Menurut Kiai Muhdi, Mbah Nashoha memiliki senjata berupa tongkat kecil (seperti mata tombak), yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Kalijaga. Kiai Muhdi yang saat itu masih kecil pernah melihat bahkan memegang senjata tersebut. Dengan senjata ini, Mbah Nashoha berhasil menundukkan para penjaga tahanan dan membebaskan para kiai yang ditahan penjajah saat itu.

Mbah Nashoha merintis Pesantren Salafiyah sejak tahun 1922, dan menantu beliau KH. Fathurrohman mulai mengembangkan metode madrasah pada tahun 1951, dan metode bertahan sampai sekarang. Mbah Nashoha wafat pada tahun 1966 dalam umur 70 tahun, dan berselang 2 tahun kemudian menantu beliau KH Fathurrohman wafat, menyusul abah mertuanya.

Mbah Nashoha memiliki beberapa putra, tiga diantaranya perempuan mereka adalah Fatmah, ‘Aisyah dan Khodijah. Dari pernikahan putri pertamanya, Ibu Nyai Fatmah dengan KH. Fathurrohman inilah lahir cucu beliau yang bernama Muntaha Mahfudz. KH Muntaha Mahfudz yang kemudian melanjutkan perjuangan Mbah Nashoha mendidik para santri di Pesantren Salafiyah Wonoyoso, sampai saat ini.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dan semangat perjuangannya. Amiin.


Sumber : Ditulis berdasarkan cerita KH. Muntaha Mahfudz (Pengasuh PP Salafiyah Wonoyoso) dan KH Muhdi Ali (Pengasuh Masjid Nurul Iman, Kawedusan).