Opini/Artikel

Rukyah Kecerdasan SMPN 08 Purworejo di Kampung Dakwah
Berita , @ 29/10/2018 08:33:03
WALISONGO, Penyuluh Agama Islam Nusantara
Artikel , @ 26/09/2018 10:13:06
Tehnis dan Tata Cara Perawatan Janazah
Fiqh Ibadah , @ 24/09/2018 10:40:23
Ruqyah Kecerdasan di Kampung Dakwah
Berita , @ 20/09/2018 10:45:16
SEMARAK TAHUN BARU 1440 H DI KEC. ROWOKELE
Berita , @ 12/09/2018 10:34:33

Polling

Bagaimanakah kinerja kelompok kerja penyuluh Kemenang Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Setujukah dakwah Islam juga dilakukan melalui media online ?
Sangat setuju
Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Opini/Artikel / Artikel / Detail

Hadist: Dari Haromain ke Indonesia

Artikel 30 Juli 2018 08:35:30 WIB Abbdul Aziz, S.Ag II PAH Kecamatan Petanahan dibaca 137 kali


        Transmisi gagasan-gagasan
pembaruan boleh jadi merupakan bidang kajian Islam yang cukup terlantar.
Sebagaimana ungkapan Azra dalam pendahuluan bukunya Jaringan Ulama (xvii:
2004). Tidak cukup hanya mengkaji tentang transmisi ilmu pengetahuan, misalnya,
dari Yunani kepada kaum Muslim dan selanjutnya kepada Eropa modern. Namun, kita
pun boleh memikirkan bagaimana terlantarnya kajian Islam mengenai transmisi
hadis, khususnya di Indonesia. Oleh karenanya, perlu adanya kajian komprehensif
tentang transmisi gagasan-gagasan kegamaan –khususnya bidang hadis- dari
pusat-pusat keilmuan Islam ke bagian-bagian lain Dunia Muslim, misalnya,
transmisi keilmuan Islam (hadis) dari Haramain (Timur Tengah) ke kawasan
Melayu-Indonesia.



Jika kita menelisik ke belakang, ternyata hubungan kaum Muslim di
kawasan Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal
Islam. Azra (xix: 2004) menyebutkan, para pedagang Muslim dari Arab, Persia dan
Anak Benua India yang mendatangi kepulaun Nusantara tidak hanya berdagang,
melainkan dalam batas tertentu juga menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.
Tentunya dengan adanya Islamisasi seperti ini, sekitar abad ke XV sampai XVIII,
secara tidak langsung hadis-hadis Nabi juga mulai berkembang di masyarakat
Indonesia, bahkan boleh jadi pada saat itu pula hadis mulai ditransmisikan oleh
para pendengarnya ke orang lain.



Proses transmisi dalam ilmu hadis biasa disebut dengan tahammul
wal ada’
, yang berarti proses menyampaikan dan menerima hadis. Maksudnya
bahwa, hadis dikirim, disampaikan atau diteruskan melalui pesan dan sebagainya
dari seseorang kepada orang lain. Transmisi hadis dari ulama Haramain ke
Indonesia begitu ketara ketika memasuki pertengahan awal abad ke IXX. Dari
hasil penelitian saya terkait hal ini, baik yang terdapat di berbagai karya
tulis yang berkaitan dengan biografi tokoh ulama Indonesia maupun jaringan
ulamanya, dari Haramain ke Indonesia, membuktikan bahwa diantara mereka
terdapat jaringan, atau transmisi hadis yang sangat urgen.



Ini dibuktikan dengan adanya penetrasi keilmuan keluarga Al-Maliki
dengan ulama Indonesia. Abad IXX, misalnya, dari Sayyid ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz
al-Maliki ke Syekh Hasyim Asy’ari (Syaifuddin, 2014: 11). Kemudian setelah
Sayyid ‘Abbas wafat, digantikan putranya yakni Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas
bin  ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki, ulama abad
XX. Beliau juga mempunyai beberapa murid yang berasal dari Indonesia
diantaranya seperti TG.KH. Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid Lombok, KH. Abdullah
Faqih Langitan dan KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang.



Proses transmisi ulama hadis Haramain ke Indonesia pun belum putus
sampai disana. Memasuki pertengahan abad ke XX hingga awal abad XXI,
sepeninggal Sayyid ‘Alawi, maka perjuangan dakwahnya diteruskan oleh putranya,
Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki. Beliau juga
mempunyai banyak murid di Indonesia yang terdiri dari para kiai dan habaib.
Sebagian diantara mereka seperti, KH. Ihya’ ‘Ulumiddin Pujon, KH. Lutfi Basori
Malang, KH. Thoifur Mawardi Purworejo, KH. ‘Abdurrahman ‘Abdullah Kebumen,
Habib Sholeh, Habib Abbas al-Haddad, Habib Ahmad Barakwan, Habib Abdullah Baqir
al-‘Athhos, Habib Muhammad bin Idrus al-Haddad, TG.H. Muhammad Thohir Azhari,
KH. Najih Maimoen Rembang dan masih banyak para kiai dan habaib lainnya. Hingga
untuk tetap mempertahankan persatuan dan kesatuan murid-murid Abuya Sayyid Muhammad
Alawi al-Maliki, jaringan ulama hadis Indonesia tersebut membuat komunitas yang
disebut Hai’ah Ash-Shofwah. Sebuah komunitas yang menampung murid-murid Sayyid
Muhammad Alawi al-Maliki di Indonesia, bahkan ada pula Hai’ah Ash-Shofwah
Internasional.



Memasuki era modern, maka perjalanan haji sembari menuntut ilmu di
Haramain pun semakin dipermudah oleh teknologi maupun informasi. Kesempatan
kemudahan studi Islam ini tidak disia-siakan oleh para ulama Nusantara.
Diantara mereka banyak yang mengirim santri-santri dan putranya untuk belajar
keilmuan Islam (hadis) di Haramain, tepatnya di Ribath Al-Malikiyyah asuhan
Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki (1946-2004M). Sufyan Tsauri (2015) menyebutkan
bahwa, lama para santri yang belajar disana relatif mulai dari 2, 3, atau 4
tahun, hingga puluhan tahun.



Karakter wasathiyyah yang ada dalam diri Sayyid Muhammad
‘Alawi al-Maliki, baik dalam berfikir maupun bertindak, menjadi satu sikap yang
patut dicontoh oleh umat Muslim. Ditambah luluhnya sikap fanatisme madzhab dalam
dirinya, juga menjadi karakteristik yang tertancap dalam diri seorang al-Imam
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
abad XXI tersebut. Sebagai salah satu ulama
sekaligus akademisi ahli hadis kontemporer, keilmuannya sudah tidak diragukan
lagi. Ini lah salah satu hal yang menyebabkan Sayyid Muhammad al-Maliki sangat
tersohor, baik di lingkungannya sendiri (Haramain), maupun di belahan dunia
(Fakhruddin Owaisi al-Madani, 2007: 2), termasuk Indonesia.



Kedekatan antara Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan
ulama Nusantara salah satunya disebabkan karena
pendekatan Abuya
al-Maliki sendiri terhadap murid-murid beliau. Najih Maimoen (2012:10) dalam
hal ini mengatakan bahwa Sayyid Muhammad dalam mendidik santrinya seperti
pendekatan seoarang ayah kepada anak-anaknya. Sayyid Muhammad sangat hafal
karakter satu persatu dari para murid, dan tahu cara menghadapi setiap murid,
untuk dibimbing sesuai bakatnya masing-masing. Setiap murid tanpa kecuali,
pasti merasa paling dekat dengan beliau, dan pasti mendapat perhatian penghargaan
yang lebih darinya sesuai dengan bidang yang ditekuni masing-masing.



Ternyata apa yang dilakukan oleh Abuya
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki ini sangat berpengaruh kepada anak
didiknya, bahkan kepada sebagian ulama di Indonesia. Terbukti, tidak sedikit
dari mereka para pengasuh pondok pesantren atau madrasah yang memerintahkan
murid-muridnya agar memanggilnya dengan sebutan 'Abuya'. Terinspirasi dari apa
yang telah dicontohkan oleh as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki (Najih
Maimoen, 2012:10). Pengaruh pemikiran hadisnya pun tersebar bersamaan dengan
tersebarnya murid-muridnya di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Ini dibuktikan
misalnya, ketika mereka senada dalam memahami hadis-hadis yang berkaitan dengan
amaliyyah kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti ziarah kubur, tawassul,
tabaruk
, memperingati maulid Nabi, serta dalam metode pendidikan dan dakwah
yang bijak ala Nabi SAW. Sehingga pada akhirnya living sunnah pun
selalu action di tempat para murid Sayyid Muhammad al-Maliki itu
tinggal.



Tumbuh dan berkembangnya alumni Ribath
al-Malikiyyah Mekkah beserta murid Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki di
Indonesia, juga menjadi keuntungan tersendiri bagi berkembangnya kajian hadis
di negeri Khatulistiwa ini. Setidaknya di beberapa pondok-pondok pesantren abna
Abuya, misalnya, Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang, Pondok Langitan, Darul
Lughoh wa Da’wah, Darussholihin, Daarut Tauhid Purworejo, dan lain sebagainya.



Beberapa pesantren tersebut hanyalah
sampel dari puluhan hingga ratusan pesantren abna Abuya di Indonesia
yang mempunyai fokus dalam pengkajian hadis, disamping juga tidak menafikan
terhadap kajian displin ilmu-ilmu umum dan keislaman lainnya. Kajian hadis
memang sangat penting sebagaimana kajian al-Qur’an. Karena hadis, atau sunnah
merupakan aplikasi dari al-Qur’an itu sendiri.



Berkat pengaruh ulama-ulama hadis Haramain ini, kajian hadis di
Indonesia dapat berkembang. Secara otomatis, ketika hadis telah berkembang dan
menjadi satu kajian utama di beberapa pondok pesantren di Indonesia, maka ilmu-ilmu
lainnya seperti fiqih, tafsir, akhlak, dan tata-bahasa pun akan turut dikaji.



Fenomena adanya pengaruh pemikiran sekaligus transmisi hadis
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki di Indonesia ini lah, yang kemudian menyebar ke
pelbagai pelosok negeri, sehingga pantas disebut dengan paham atau aliran
‘malikisme’. Karena memang mereka (baca: para ulama Indonesia) sedikit lebih
banyak terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Bukan
berarti malikisme adalah madzhab Maliki. Namun ‘malikisme’ disini
diorientasikan ke buah pemikiran Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Setuju atau
tidak, malikisme di Indonesia ini adalah fakta sejarah yang tak boleh
disepelekan. Fakta telah adanya transmisi atau jaringan ulama hadis
Haramain-Indonesia abad IXX dan XXI ini, memberi sumbangsih yang cukup besar
terhadap perkembangan kajian hadis di Indonesia. Baik di masa kini, nanti,
maupun masa yang akan datang.